Jurnal
e-Clinic (eCl), Volume 4, Nomor 1, Januari-April
2016
Deteksi
dini skoliosis menggunakan skoliometer pada siswa kelas VI SD
di
Kecamatan Mapanget Manado
Amy C. Parera
Lidwina
S. Sengkey
Joudy
Gessal
Kandidat
Skripsi Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi
Bagian
Ilmu Kedokteran Fisik dan Rehabilitatio Fakultas Kedokteran
Universitas
Sam Ratulangi – RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado
Email:
amycansu@ymail.com
Abstract:
Most
of scoliosis has been diagnosed in 10 to 15 year old children. Untreated
scoliosis may become worse and may affect the cardiopulmonary function, limited
mobilitiy for people and have a negative impact on posture. Early detection of
scoliosis plays an important role in preventing deformity and damages. This
study aimed to obtain the number of the sixth grader students who were
potentially scoliosis in Mapanget Manado. This was an observational descriptive
study. Data were collected by measuring the Angle of Trunk Rotation of 81 students
of sixth grade who met the inclusion criteria by using scoliometer. The results
showed that there were three students (4%) aged 11 years who were highly
potential scoliosis. There were 28 of the 37 female students (76%) categorized
as intermediate and highly potential scoliosis groups. All students with highly
potential scoliosis were from independent school. Conclusion: The
percentage of the sixth grader students in Mapanget Manado who were detected as
highly potential scoliosis was 4%.
Keywords:
early
detection, scoliosis, scoliometer
Abstrak:
Sebagian
besar skoliosis terdiagnosis pada anak dengan rentang usia 10 hingga 15 tahun.
Skoliosis yang tidak ditangani dapat menjadi lebih buruk, berpengaruh pada
fungsi kardiopulmoner, keterbatasan mobilitas bagi penderita dan berdampak
buruk pada postur tubuh. Deteksi dini skoliosis berperan penting dalam mencegah
kelainan dan kerusakan yang bertambah parah. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui jumlah siswa kelas VI SD yang dideteksi berpotensi skoliosis di
Kecamatan Mapanget Manado. Metode: Penelitian ini bersifat observasional
deskriptif. Data diperoleh melalui pengukuran langsung Angle of Trunk
Rotation pada 81 siswa kelas VI SD yang memenuhi kriteria inklusi dengan
menggunakan alat skoliometer. Hasil penelitian mendapatkan tiga siswa (4%)
berusia 11 tahun yang berpotensi tinggi skoliosis. Terdapat 28 dari 37 orang
(76%) siswa perempuan termasuk dalam golongan intermediate dan potensi
tinggi skoliosis Semua siswa berpotensi tinggi skoliosis berasal dari sekolah
swasta. Simpulan: Persentase jumlah siswa kelas VI SD di Kecamatan
Mapanget yang dideteksi berpotensi tinggi skoliosis sebanyak 4%.
Kata
kunci: deteksi dini, skoliosis, skoliometer.
Skoliosis
berasal dari bahasa Yunani yang berarti kurva atau bengkok.1 Skoliosis
didefinisikan sebagai abnormalitas lengkungan ke lateral dari tulang belakang
dengan ukuran lengkungan lebih besar dari 100. Ketika tubuh dilihat dari
belakang, normalnya tulang belakang terlihat lurus. Namun, pada skoliosis,
tulang belakang yang seharusnya terlihat lurus, akan terlihat lekukan abnormal
ketika tubuh dilihat baik dari belakang, lateral atau dari sisi ke sisi. Prevalensi
skoliosis di seluruh dunia 98 Parera, Sengkey, Gesal: Deteksi dini
skoliosis menggunakan skoliometer ..mencapai 1% dari populasi. Skoliosis menyerang
2-3% penduduk di US atau sekitar 7 juta orang. Sebagian besar skoliosis
terdiagnosis pada anak dengan rentang usia 10 hingga 15 tahun. Pada tahun 2004,
berdasarkan data The American Academy of Orthopaedic
Surgeons,
sekitar 1.26 juta pasien dengan masalah gangguan tulang belakang di layanan
kesehatan, 93% diantaranya didiagnosis skoliosis. 85% pasien skoliosis
merupakan skoliosis idiopatik. 60 % hingga 80% kasus skoliosis idiopatik
terjadi pada perempuan. Skoliosis idiopatik padaremaja merupakan penyakit yang
sering terjadi dengan prevalensi 0.47-5.2%. Berdasarkan penelitian yang
dilakukan pada sekolah-sekolah dasar di Johannesburg, ditemukan bahwa terdapat 2,5%
insidensi potensi skoliosis pada sekolah
swasta. Sedangkan insidensi potensi skoliosis pada sekolah negeri hanya 0,5%. Skoliosis yang tidak ditangani dapat menjadi
lebih buruk dan dapat menyebabkan nyeri punggung kronik, serta berpengaruh pada
fungsi kardiopulmoner. Abnormalitas ini juga dapat menyebabkan keterbatasan
mobilitas bagi penderita dan berdampak buruk pada postur tubuh. Setiap tahunnya
ada sekitar 30.000 anak dipasang brace dan lebih dari 100.000 anak dan orang
dewasa yang telah didiagnosis menjalani operasi. Komplikasi skoliosis dapat
terjadi pada pasien dengan atau tanpa penanganan. Komplikasi yang mungkin
terjadi pada pasien yang tidak mendapat penanganan adalah sebagai berikut:
1. Komplikasi
pada sistem kardiopulmoner akibat pergerakan yang tertekan dalam rongga dada.
Hal ini dapat menyebabkan hipertensi pulmonal dengan congestive heart
failure. Perubahan fungsi paru juga dapat menjadi predisposisi infeksi paru
dan dispneu.
2. Degenerative
spinal arthritis
3. Progresi
lengkungan
4. Kelemahan
dan disfungsi sendi
5. Paparan
radiasi akibat jumlah gambaran radiografi yang diambil
Komplikasi
yang mungkin terjadi pada pasien skoliosis yang mendapat penanganan ialah:
1. Stress
psikologis dan iritasi kulit akibat penggunaan bracing pada pasien.
2. Henti
jantung dan cedera medull spinalis
selama operasi. Pseudoarthrosis dan infeksi merupakan komplikasi yang paling sering post-operasi.
3. Paparan
radiasi. Terapi fisik dan stimulasi elektrik tidak menunjukkan perubahan
riwayat perjalanan skoliosis. Sebaliknya, penggunaan bracing dan
tindakan operasi telah terbukti
memberi perubahan riwayat perjalanan skoliosis.
Penggunaan brace lebih nyaman dan lebih ditoleransi penggunaannya dibandingkan
dahulu. Penelitian menunjukkan bahwa para remaja menggunakan brace mereka
hanya 65% dari masa penggunaan seharusnya. Brace yang sangat modern saat
ini adalah tipe underarm thoracolumbar-sacral orthosis, dimana dapat
digunakan di dalam pakaian. Penelitian terakhir menunjukkan bahwa bracing memiliki
tingkat keberhasilan 74% dalam menekan perkembangan lengkungan. Hal ini penting
untuk diberitahukan kepada pasien dan orang tua bahwa bracing tidak
memperbaiki skoliosis namun dapat mencegah perkembangan yang signifikan dari
tulang belakang. Tindakan operasi memperbaiki deformitas dan menghentikan
perkembangan yang lebih lanjut dari lengkungan skoliosis. Konsensus terakhir
menyatakan tindakan operasi dilakukan pada pasien dengan kurva tulang belakang
lebih besar dari 400 – 450 dimana masih terjadi pertumbuhan. Banyak implan
tersedia untuk memberi stabilitas yang baik dan tekanan untuk perbaikan yang
kuat pada kolumna spinalis. Deteksi dini skoliosis memegang peranan penting
dalam mencegah kelainan dan kerusakan yang bertambah parah. Pada tahun 1993,
Montgomery dan Willner6,8 menyimpulkan bahwa skrining menurunkan jumlah operasi
karena skoliosis dapat dideteksi pada usia dini, pada saat lengkungan yang
masih kecil, dan juga hal tersebut memberi prognosis yang baik. The American
Academy of Orthopaedic Surgeons, The Scoliosis Research Society, Pediatric
Orthopaedic Society of North America, The Anerican Academic of Pediatrics
menyadari keuntungan yang didapat dari program skrining klinis skoliosis
yang efektif, yaitu pencegahan potensi kemajuan deformitas dan deteksi dini
deformitas yang parah yang membutuhkan koreksi operatif. Deteksi dini dengan
cara skrining dapat memantau lengkungan dan waktu penggunaan bracing. Skrining yang dilakukan pada sekolah-sekolah
direkomendasikan pada usia pubertas. Ketidakseimbangan proses endokrin, khususnya
selama pubertas, berpengaruh penting
dalam skoliosis. Skrining skoliosis tidak dirancang sebagai metode diagnostik.
Tujuan utama skrining adalah untuk
menemukan anak-anak dengan tingkat probabilitas yang tinggi tehadap kejadian
skoliosis. Skrining dilakukan dua kali pada perempuan umur 10 dan 12 tahun, dan
satu kali pada laki-laki umur 13atau 14 tahun. Metode dasar dalam skrining scoliosis pada sekolah-sekolah adalah pemeriksaan klinis
dengan posisi forward-bending dengan menggunakan skoliometer yang juga
dapat digunakan pada posisi berdiri atau duduk. Skoliometer mengukur the Angle of Trunk Rotation. Bunnel mendefinisikan
kriteria skrining sebagai berikut:
1. Dalam
batas normal : ATR 00 – 30
2. Intermediate : ATR 40 – 60
3. Relevan
dengan tingkat probabilitas tinggi
skoliosis : ATR ≥70.
Metode
ini memiliki sensitivitas 83,3% dan spesifitas
86,8%.
METODE
PENELITIAN
Penelitian
yang dilakukan merupakan penelitian observasional deskriptif. Penelitian ini
dilakukan di di empat SD yaitu SD GMIM 54 Lapangan, SD Inpres Mapanget
Barat, SD Katolik Santo Yohanes Mapanget, SD Inpres 03 Mapanget
pada bulan Oktober-Desember 2015. Sampel penelitian ini adalah semua siswa
sekolah dasar kelas VI SD yang terdaftar dan hadir saat pemeriksaan dilakukan
serta yang orang tuanya telah menandatangani informed consent. Pengukuran Angle
of Trunk Rotation menggunakan skoliometer pada siswa dalam posisi Adam’s
Forward Bending.
HASILPENELITIAN
Tabel
1. Distribusi
potensi skoliosis pada siswa kelas VI SD Kecamatan Mapanget Manado secara umum
|
Kategori
|
Jumlah
siswa (orang)
|
%
|
|
Normal
(ATR
0-3)
|
41
|
50
|
|
Intermediate
(ATR
4-6)
|
37
|
46
|
|
Berpotensi
Tinngi scoliosis
(ATR
≥
|
3
|
4
|
|
Total
|
81
|
100
|
Tabel
2 memperlihatkan terdapat tiga siswa yang
berpotensi tinggi skoliosis. Sampel terbanyak berada pada usia 11 tahun, yaitu
sebanyak 51 orang, dimana tiga diantaranya dideteksi berpotensi tinggi skoliosis.
Tabel
2. Distribusi
potensi skoliosis pada siswa kelas VI SD
Kecamatan Mapanget Manado
berdasarkan
usia
|
Usia
|
Potensi
tinggi scoliosis
|
Interpretasi
intermediate
|
Normal
|
Total
|
|
10
|
0
|
8
|
8
|
16
|
|
11
|
3
|
24
|
24
|
51
|
|
12
|
0
|
2
|
6
|
8
|
|
13
|
0
|
3
|
2
|
5
|
|
14
|
0
|
0
|
1
|
1
|
|
Total
|
3
|
37
|
41
|
81
|
Tabel
3 memperlihatkan bahwa seluruh siswa yang berpotensi tinggi skoliosis berjenis
kelamin perempuan.
Tabel
3. Distribusi
potensi skoliosis pada siswa kelas IV SD Kecamatan Mapanget Manado
berdasarkan
jenis kelamin
|
Jenis
kelamin
|
Potensi
tinggi Skoliosis
|
intermediate
|
Normal
|
Total
|
|
Laki-laki
|
0
|
12
|
32
|
44
|
|
Perempuan
|
3
|
25
|
9
|
37
|
|
Total
|
3
|
37
|
41
|
81
|
Tabel
4. Distribusi
potensi skoliosis pada siswa kelas VI SD Kecamatan Mapanget Manado berdasarkan
jenis sekolah
|
Jenis
sekolah
|
Potensi
tinggi scoliosis
|
Intermediate
|
Normal
|
Total
|
|
Negeri
|
0
|
11
|
22
|
33
|
|
Swasta
|
3
|
26
|
19
|
48
|
|
Total
|
3
|
37
|
41
|
81
|
BAHASAN
Berdasarkan
Tabel 1 di atas, dapat dilihat bahwa terdapat perbandingan yang sama antara
jumlah siswa kelas VI SD yang normal dengan jumlah siswa kelas VI SD yang terdeteksi
potensi skoliosis, yaitu sebanyak 50% siswa normal dan 50% lainnya potensi
skoliosis dimana terdiri dari kelompok intermediate dan kelompok potensi
tinggi skoliosis. Hal ini memberi informasi baru bahwa di Kecamatan Mapanget
tidak terdapat perbedaan yang jauh antara kasus normal dan kasus potensi skoliosis.
Dari 50% siswa yang terdeteksi potensi skoliosis, terdapat 46% tergolong Intermediate
dan 4% berpotensi tinggi skoliosis. Hal ini sejalan dengan data penelitian
Roach14
tahun 1999 yang menunjukkan bahwa angka kejadian skoliosis pada umur 10-16 tahun
adalah sebanyak 2-4%. Dan pada tahun 2012, data epidemiologi yang dikemukakan
oleh Konieczny mengenai skoliosis idiopatik pada remaja terjadi dengan prevalensi
0.47-5.2%. Pemantauan melalui skrining skoliosis dapat melihat perkembangan dan
mencegah perkembangan yang lebih lanjut pada anak-anak dengan tingkat
probabilitas skoliosis yang tinggi. Skrining yang dilakukan pada sekolah-sekolah
direkomendasikan pada usia pubertas.Skrining skoliosis tidak dirancang sebagai
metode diagnostik. Tujuan utama skrining adalah untuk menemukan anak-anak
dengan tingkat probabilitas yang tinggi tehadap kejadian
Scoliosis.
Skrining biasanya dilakukan dua kali pada perempuan usia 10 dan 12 tahun. Sedangkan
pada laki-laki hanya satu kali, yaitu pada usia 13 atau 14 tahun.Dari Tabel 2
dapat dilihat bahwa sebagian besar siswa kelas VI SD berusia 11 tahun. Tiga
dari 81 siswa kelas VI SD
yang
dideteksi berpotensi tinggi scoliosis ditemukan pada usia 11 tahun. Berdasarkan
data penelitian Roach14 angka kejadian skoliosis pada umur 10-16 tahun adalah sebanyak
2-4%. Hal ini karena scoliosis cenderung mengalami kemajuan selama periode
pertumbuhan masa pubertas.
Kemajuan
deformitas tulang belakang yang mengalami skoliosis terjadi selama growth
spurt remaja. Ketidakseimbangan proses endokrin, khususnya selama
pubertas, juga penting dalam skoliosis. Insufisiensi endokrin menyebabkan
gangguan metabolism air dan mineral yang dapat mengakibatkan perlunakan tulang
rangka. . Berdasarkan hal tersebut, gangguan metabolisme jaringan ikat diskus intervertebralis
menurunkan kekuatan diskus selama torsi tulang belakang dan membantu migrasi
awal nukleus pulposus. Hal ini menyebabkan deformitas “wedgeshaped” pada
korpus vertebralis dan diskus yang pada akhirnya berdampak pada perkembangan
skoliosis structural. Oleh karena itu
skrining skoliosis direkomendasikan pada anak usia pubertas. Dari data Tabel 3
terlihat perbedaan jumlah yang besar siswa kelas VI SD yang dideteksi
berpotensi skoliosis antara laki-laki dan perempuan. Pada laki-laki terdapat 12
orang (30%) yang dideteksi berpotensi skoliosis (pada kelompok intermediate).
Namun di antara 12 orang yang dideteksi
berpotensi
skoliosis tersebut, tidak ditemukan siswa yang berpotensi tinggi skoliosis.
Sedangkan pada perempuan, terdapat 28 orang (76%) yang dideteksi berpotensi
skoliosis, dengan tiga di antaranya berpotensi tinggi skoliosis. Hasil tersebut
mendukung penelitian sebelumnya mengenai kecenderungan potensi scoliosis pada
perempuan. Hal tersebut dikemukakan oleh Fred Mo, yang menyatakan bahwa skoliosis
idiopatik pada remaja terjadi pada 2%-4% anak-anak selama periode pertumbuhan
masa pubertas terutama pada perempuan, perbandingan di antara perempuan dan
laki-laki bertambah 6 : 1 pada umur 9-10 tahun; 4 : 1 pada 11-12 tahun.
Skrining biasanya dilakukan dua kali pada perempuan usia 10 dan 12 tahun, sedangkan
pada laki-laki hanya satu kali, yaitu pada usia 13 atau 14 tahun. Pada Tabel 4
ditemukan 29 dari 40
(72,5%)
siswa kelas VI SD yang dideteksi berpotensi skoliosis berasal dari sekolah swasta,
tiga di antaranya berpotensi tinggi skoliosis. Pada sekolah swasta terdapat 3 dari
48 siswa (6,25%) yang dinyatakan berpotensi tinggi skoliosis. Sedangkan pada sekolah
negeri tidak terdapat siswa yang berpotensi tinggi skoliosis. Sehingga angka potensi
tinggi skoliosis pada sekolah swasta lebih besar dari sekolah negeri. Hasil ini
menunjukkan hal yang sama dengan penelitian yang dilakukan di Johannesburg.
Penelitian yang dilakukan oleh Andrew Hendrik Janse van Rensburg
tersebut
menemukan bahwa terdapat 2,5% insidensi potensi skoliosis pada sekolah swasta
sedangkan insidensi potensi skoliosis pada sekolah negeri hanya 0,5%. Ditemukan
perbedaan signifikan secara statistik angka kejadian skoliosis, dimana sekolah
negeri memiliki insidensi yang lebih rendah dari sekolah swasta. Kedua jenis
sekolah ini menunjukkan dua tipe kelompok status ekonomi, yang dapat berpengaruh pada prevalensi skoliosis. Hal yang
dapat berpengaruh juga seperti kurangnya aktivitas fisik pada anak yang tingkat
ekonominya lebih tinggi karena ketersediaan computer, internet, televisi, permainan
elektronik seperti Play Station. Kelompok pendapatan rendah hingga menengah
lebih terlibat dengan kegiatan di luar ruangan dan olahraga di sekolah sebagai
sumber hiburan.
SIMPULAN
Berdasarkan
hasil penelitian melalui pemeriksaan deteksi dini skoliosis yang dilakukan pada
siswa kelas VI di 4 sekolah dasar Kecamatan Mapanget Manado dapat disimpulkan
bahwa:
1. Persentase
jumlah siswa kelas VI SD di Kecamatan Mapanget yang dideteksi berpotensi tinggi
skoliosis sebanyak 4%.
2. Siswa kelas VI SD yang terdeteksi berpotensi
tinggi skoliosis merupakan siswa kelas VI SD usia 11 tahun dan lebih banyak
terjadi pada perempuan.
3. Jumlah siswa kelas VI SD di Kecamatan Mapanget
yang dideteksi berpotensi skoliosis lebih banyak terjadi pada siswa sekolah
swasta dibanding sekolah negeri
SARAN
1. Perlu
pemantauan berkala pertumbuhan tulang belakang pada anak usia pubertas di
sekolah-sekolah dasar dalam mendeteksi gangguan pertumbuhan, dalam hal ini skoliosis.
2. Perlu
ditingkatkan artikel-artikel ilmiah, data-data hasil penelitian serta kegiatan sosialisasi
di sekolah-sekolah yang dapat memberi informasi mengenai skoliosis, sehingga
dapat meningkatkan kesadaran banyak pihak tentang pentingnya skoliosis.
3. Siswa yang dideteksi berpotensi tinggi skoliosis
sebaiknya diedukasi dan disarankan untuk melakukan pemantauan dan pemeriksaan
lebih lanjut.
DAFTAR
PUSTAKA
1.
The Scoliosis Australia; About Scoliosis-Causes, Symptoms, Treatment
[homepage
on the Internet]. [cited 2015 Sep 20]. Available from: www.scoliosisaustralia.
org/scoliosis/about_scoliosis.html.
2.
Scoliosis Research Society; What is Scoliosis? [homepage on the Internet].
[cited
2015 Sep 20]. Available from: http://www.srs.org/patient_and_family/
patient_handbook/what_is_scoliosis.htm.
3.
Van Rensburg AHJ. A Study to Determine The Incidence of Scoliosis in
School Children Within The Metropolis of Johannesburg, South Africa. [dissertation].
Johannesburg: University
of
Johannesburg; 2006.
4.
Scoliosis Media and Community Guide [booklet]. Stoughton: National Scoliosis
Foundation and DePuy Spine, Inc., 2009.
5.
Katz S, editor. The Burden of Musculoskeletal Diseases in the United States.
Rosemont (IL): Bone and Joint Decade, American Academy of Orthopedic Surgeons,
2008.
6.
Konieczny MR, Senyurt H, Krauspe R.
Epidemiology
of adolescent idiopathic scoliosis. J Child Orthop. 2013; 7:3–9.
7.
Reamy BV, Slakey JB. Adolescent Idiopathis Scoliosis: Review and Current
Concepts. Am Fam Physician. 2001;64(1):111-6.
8.
Montgomery F, Willner S. Screening for idiopathic scoliosis: Comparison
of 90 cases shows less surgery by early diagnosis. Acta Orthop Scand. 1993;64: 456-458.
9.
Brox JI. Idiopathic Scolisosis. EMJ Rheumatol. 2014;1:48-55.
10.
Serdyuk V. Scoliosis and Spinal Pain Syndrome (1st ed). New Delhi:
Byword Books Private Limited, 2014.
11.
Chowanska J, Kotwicki T, Rosadzinski K, Sliwinski Z. School Screening
for Scoliosis: Can Surface Topography Replace Examination With
Scoliometer? Scoliosis. 2012; 7(9).
12.
Richards BS, Vitale M. Screening for Idiopathic Scoliosis in
Adolescents. JBJS. 2008;90:195-8. doi:10.2106/JBJS.G.01276
13.
Bunnell W. Outcome of Spinal Screening. Spine. 1933;18(12):1572-80.
14.
Roach JW. Adolescent idiopathic scoliosis. Orthop Clin North Am
1999;30:353-65.
15.
Burger EI, Noshchenko A, Patel VV, Lindley EM, Bradford AP. Ultrastructure
of Intervertebral Disc and Vertebra-Disc Junctions Zones as a Link
in Etiopathogenesis of Idiopathic Scoliosis. Advances in Orthopedic Surgery.
2014. http://dx.doi.org/10.1155/2014/850594.
16.
Shi L, Wang D, Driscoll M, Villemure I, Chu WCW, Cheng JCY, et al.
Biomechanical
Analysis and Modeling of Different
Vertebral Growth Patterns in Adolescent Idiopathic Scoliosis and Healthy
Subjects. Scoliosis. 2011;6(11).
17.
Mo F, Cunningham ME. Pediatric Scoliosis. Curr Rev Musculoskelet Med.
2011;4:175-82.
doi:10.1007/s12178-011-9100-0.
sumber link : http://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/eclinic/article/view/10831
Tidak ada komentar:
Posting Komentar